Peranan Perbankan menghadapi Pasar Bebas Asean

 

Pendahuluan

 

ASEAN Community merupakan komunitas negara-negara yang bergabung di The Association of Southeast Asian Nation (ASEAN), yang bekerjasama di beberapa bidang anatara lain bidang ekonomi, sosial budaya, dan politik-keamanan. Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community) adalah salah satu keputusan Bali Concord II,  yang mensyaratkan sebelum 2015 Asia Tenggara akan menjadi single market dan basis produksi. Artinya, sebelum 2015 semua rintangan perdagangan akan diliberalisasi dan deregulasi. Semua arus perdagangan pada 2015 akan dibebaskan dari bea tarif (Free Trade Area) yang selama ini menjadi penghalang perdagangan dan implementasi proteksionisme.

Berdasarkan Survei Global Competitiveness Index tahun 2012-2013 membuktikan bahwa Indonesia masih lemah daya saingnya dengan negara-negara ASEAN lain. Dalam surveinya, Indonesia menempati peringkat kelima dari delapan negara ASEAN, di bawah Thailand dan setingkat di atas Filipina. Sementara di posisi puncak ada Singapura, disusul dengan Malaysia dan Brunei. Kualitas infrastruktur Indonesia sendiri masih kalah jauh dengan negara ASEAN lainnya. Survei The World Economic Forum 2012-2013 menunjukkan kualitas infrastruktur Indonesia yang menempati peringkat 92 dari 144 negara. Posisi ini jauh di bawah Singapura, Malaysia, Vietnam, bahkan Srilanka. Keadaan itu tentu melemahkan daya saing dan menyebabkan meningkatnya biaya produksi. (Kompasiana, 2013)

AEC mengharapkan ASEAN menjadi kawasan yang makmur dan kompetitif dengan perkembangan ekonomi yang merata, serta menurunnya tingkat kemiskinan dan perbedaan sosial ekonomi di kawasan ASEAN. Tapi yang menjadi sebuah pertanyaan besar, Sudahkah Indonesia mempersiapkan diri untuk melawan arus pasar bebas yang nantinya tidak lagi bisa ditanggulangi jika nyatanya Indonesia tidak memiliki kapabilitas yang cukup? Akankah banyak peluang untuk meningkatkan kualitas produk- produk maupun tenaga kerja Indonesia yang profesional dalam memasuki tantangan untuk menguasai pasar ASEAN? Bagaimana menyukseskan Indonesia dalam menghadapi AEC yang sepertinya hanya dalam hitungan detik lagi? Indonesia benar-benar diantara 2 mata pisau, akan menjadi negara termahsyur dengan menguasai pasar jika mengoptimalkan potensialnya ataukah negara melarat yang ditimbun  karena kalah dalam persaingan pasar bebas.

Pembahasan

 

Pengertian Asean Economic Community

ASEAN (Association of South East Asian Nations) setelah merangkai negara-negara Asia Tenggara dalam Deklarasi Bangkok ternyata berjalan relatif lebih cepat dibandingkan dengan kerjasama di bidang politik, keamanan dan sosial budaya, sehingga mempercepat pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community).

Pada tahun 1997, disepakati ASEAN Vision 2020, yaitu mewujudkan kawasan yang stabil, makmur dan berdaya saing tinggi dengan pembangunan ekonomi yang merata yang ditandai dengan penurunan tingkat kemiskinan dan perbedaan sosial ekonomi. Lalu pada tahun 2003, disepakati tiga pilar untuk mewujudkan ASEAN Vision 2020 yang dipercepat menjadi 2015, yaitu:

1. ASEAN Economic Community

2. ASEAN Politcal-Security Community

3. ASEAN Socio-Cultural Community.

Pada bulan Januari 2007, disepakati untuk mempercepat pencapaian ASEAN Economic Community (AEC) yang semula tahun 2020 menjadi tahun 2015 dan pada tahun yang sama ditandatangani pula pedoman bagi negara-negara anggota ASEAN untuk mencapai ASEAN Economic Community (AEC) 2015, yaitu AEC Blueprint. Dimana setiap negara-negara anggota ASEAN berkewajiban untuk komitmen dalam blueprint tersebut yang berisi rencana kerja strategis dalam jangka pendek, menengah dan panjang hingga tahun 2015 menuju terbentuknya integrasi ekonomi ASEAN, yaitu menuju single market, penciptaan kawasan regional ekonomi berdaya saing tinggi, kawasan pembangunan ekonomi merata, dan menuju integrasi penuh ekonomi global.

 

Peluang Indonesia dalam Asian Economic Community 2015

Integrasi Ekonomi

Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbanyak yakni mencakup 40% dari total penduduk Asia tenggara. Indonesia seharusnya bisa memanfaatkan integrasi ekonomi jika sebelum 2015 Indonesia bisa melakukan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) baik hard skill maupun soft skill.

 

Indonesia motor penggerak

Prediksi yang baru-baru ini dikeluarkan oleh Mckinsey Global Institute (MGI) yang menyatakan bahwa salah satu negara Asia Tenggara, Indonesia pada tahun 2030 akan menempati 7 besar ekonomi dunia. Konsumsi dalam negeri yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 45 juta, akan meningkat dua kali lipat menjadi 90 juta. Hal tersebut menjadi peluang tersendiri bagi negara-negara di Asia Tenggara dengan menjadikan Indonesia yang bergeliat ekonominya sebagai mesin pendorong pertumbuhan negara-negara di Asia Tenggara. Dengan jumlah pasar lebih dari dua kali lipat penduduk Indonesia, industri Indonesia juga akan semakin berkembang dengan memperluas pangsa pasar mereka.(Wisnuputra, 2013)

 

Pasar Potensial Dunia

Indonesia sesungguhnya memiliki potensi yang sangat besar sekali jika kita mampu bersikap untuk menyesuaikan diri menghadari Asean Economic Community 2015. Indonesia dengan jumlah 40% dari Asean, jika kita bayangkan 10-40% saja dari masyarakat  Indonesia yang menjadi pengusaha maka dapat dibayangkan berapa keuntungan yang akan di dapat. Jika saja 40% penduduk Indonesia mampu bersikap cerdas dalam mogok konsumsi barang impor dan terus produksi barang lokal maka bisa dibayangkan kemajuan yang sangat pesat.

Potensial ini seharusnya dimulai dengan membuat sosialisasi kepada masyarakat akan datangnya pasar bebas sehingga masyarakat mulai waspada dan akhirnya menumbuhkan jiwa-jiwa entrepreneurship untuk dapat menguasai dunia dimulai dengan menguasai pasar ASEAN.

 

Negara Tujuan Investor

Indonesia sebagai negara yang luas, banyak budaya dan cukup strategis seharusnya mampu menarik banyak investor demi membangun teknologi di negeri ini. Hal ini dapat dicapai jika Indonesia memulai menjalin kerja sama yang bisa membuat klien luar negeri mampu menanamkan modalnya dengan tetap menjadi hak milik dan dijalankan oleh rakyat Indonesia.

 

Negara Pengekspor

Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alamnya dengan pengelolaan maksimal mampu merajai pasar bebas. Selama ini sudah banyak negara yang bergantung pada SDA Indonesia sebut saja kelapa sawit, tekstil, produk hasil hutan, karet, alas kaki, dan masih banyak produk lainnya.

 

Jasa

Sektor jasa adalah salah satu sektor yang belakangan ini mendapatkan perhatian khusus dari berbagai pihak di Indonesia. Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, menyampaikan bahwa peran sektor jasa dalam perdagangan internasional sangat penting dan oleh karena itu sangat penting bagi Indonesia untuk terus mendukung sektor tersebut. Menurutnya, semakin maju perekonomian suatu negara, sektor jasa menjadi semakin penting dan melampaui pentingnya sektor agrikultur dan industri. (Republika, 2013) Pandangan senada juga disampaikan oleh Menteri Perindustrian, M.S. Hidayat, yang menyampaikan bahwa sektor jasa adalah sektor yang penting dalam perekonomian Indonesia dan menyumbang sekitar 60-80% dalam penurunan kemiskinan di Indonesia.(Satu harapan.com)

 

Tantangan Indonesia dalam menghadapi Asean Economic Community 2015

Laju inflasi

Laju inflasi Indonesia masih tinggi bila dibandingkan dengan negara  anggota ASEAN lainnya. Tingkat kemakmuran Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan negara lain dan juga stabilitas makro menjadi kendala peningkatan daya saing Indonesia.

 

Laju Peningkatan Ekspor dan Impor

Kinerja ekspor selama periode 2004-2008, Indonesia berada diurutan ke-4 setelah Singapura, Malaysia dan Thailand. Sedangkan untuk impor, Indonesia sebagai importer tertinggi ke-3 setelah Singapura dan Malaysia, dan ini merupakan tantangan yang serius karena telah mengakibatkan neraca perdagangan Indonesia yang defisit terhadap beberapa Negara ASEAN.

 

Kesamaan Produk

Dalam hal kesamaan produk, yang perlu dilakukan oleh Indonesia adalah dengan meningkatkan nilai tambah bagi produk ekspornya sehingga mempunyai karakteristik tersendiri dengan produk dari Negara ASEAN lainnya. Keuntungan bagi Indonesia adalah adanya standar kualitas di ASEAN membuat produsen local Indonesia menjadi terpacu untuk memperbaiki kualitas sehingga produknya lebih baik dan lebih berdaya saing keluar

 

 Daya saing SDM

Indonesia tidak boleh lagi menjadi budak di negeri sendiri atau di negeri orang lain. Tantangan ini harus diselesaika dengan semakin banyaknya rakyat Indonesia  yang berpendidikan dan berkompeten dalam segala bidang.

 

Kedaulatan Negara

Pembatasan kebijakan fiskal, moneter dan ekonomi akan dibatasi integrasi ekonomi ASEAN sehingga butuh pengorbanan besar karena bagaimana mungkin tidak menggunakan kebijakan fiskal padahal Indonesia menargetkan

 

Strategi menyukseskan Indonesia menghadapi Asean Economic Community 2015

Rekomendasi kebijakan

berdasarkan laporan penelitian ASEAN Studi Center yang dilakukan FISIP UI bekerja sama dengan kementerian luar negeri :

  1. Penguatan koordinasi antar institusi pemerintah yang terkait dengan memperkuat Sekretariat Nasional ASEAN, dengan salah satu fokus kongkritnya adalah membangun strategi untuk memperkuat daya saing di 8 sektor yang telah disepakati dalam MRA dan MRA Framework, termasuk dengan memetakan peluang di dalam negeri dan di negara-negara ASEAN.
  2. Menggalakkan upaya mendorong daya saing di 8 sektor yang telah disepakati dalam MRA dan MRA Framework sesuai dengan keadaan di masing-masing sektor tersebut. Rekomendasi spesifik akan ditambahkan di bagian selanjutnya dari bagian ini.
  3. Mendorong pemerintah dan para pemangku kepentingan yang lain untuk memrakarsai pertemuan rutin yang melibatkan semua pemangku kepentingan. Ada gagasan untuk membuat Masyarakat Profesional Indonesia, khususnya yang melibatkan 8 sektor tersebut.
  4. Pemerintah harus bertindak proaktif dengan mendorong berbagai inisiatif untuk menjangkau para pelaku di sektor jasa tersebut di Indonesia dan membangun kesiapan mereka. Salah satu yang dapat dilakukan adalah pembuatan mekanisme yang dapat memberikan insentif yang lebih nyata jika seorang insinyur, arsitek, akuntan atau yang lain memiliki sertifikasi ASEAN.
  5. Penelitian ini memberikan batasan hanya pada kepentingan dan kebutuhan pekerja terampil di bidang jasa yang diakomodasi melalui asosiasi profesi terkait. Penelitian mengenai analisis SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunity, dan Threat) tenaga terampil sektor jasa di Indonesia perlu segera dilakukan sebagai lanjutan penelitian ini dengan memasukkan bahasan mengenai kepentingan pengguna jasa dan stake holder lainnya.

 

Sosialisasi mengenai Asean Economic Community           

Menghadapi Asean Economic Community kita tak bisa diam saja menanggapi waktu yang terus bergulir. Sosialisasi besar-besaran harus dimulai untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan gentingnya datangnya pasar bebas yang jika tidak dipersiapkan dengan baik mampu membunuh ekonomi ibu pertiwi.

Media local seharusnya mengabarkan dengan gencar proses yang berjalan menuju pemberlakuan AEC, tapi nyatanya terlihat adem ayem saja. Rakyat dipaksa menutup mata terhadap kegiatan perdagangan bebas antarnegara ASEAN ini. Padahal, rakyat harus mengenal dan mengetahui kabar ini sehingga bersiap diri dalam waktu yang tidak lama lagi.

 

Cintai Produk Indonesia

Tidak mudah merubah mindset masyarakat terhadap brand barang luar. Dibutuhkan segera pemupukan persepsi sehingga masyarakat tidak lagi menganggap bahwa brand luar itu baik, tapi bagaimana menjual barang lokal menjadi mendunia sebelum Indonesia dijajah barang impor. Indonesia  berada pada barisan optimis bahwa mampu memanfaatkan peluang keuntungan perdagangan bebas dengan upaya empowerment produk domestik danencourage perusahaan Indonesia agar dapat bersaing di pasar domestik dan global.

 

Pendanaan Wirausaha

Semakin banyak kreatifitas warga yang didanai, semakin semangat warga Indonesia dalam menciptakan lapangan pekerjaan demi menyerbu lapangan pekerjaan luar. Indonesia butuh lebih banyak terobosan baru.

 

Ekspor harus lebih besar dari impor

Konsentrasi perdagangan ke luar ASEAN memang mengalami penurunan sejak tahun 1993 dari 80% menjadi sekitar 73% pada akhir tahun 2008. Keadaan ini berbanding terbalik dengan perdagangan intra-ASEAN yang meningkat dari 19% menjadi 26% di tahun yang sama. Indonesia yang menjadi salah satu pemain penting dalam percaturan dagang di ASEAN memiliki presentase impor yang tidak berimbang dengan ekspor baik dalam lingkup intra-ASEAN maupun ke luar ASEAN. Keadaan ini harus dipahami oleh pemerintah sehingga nantinya terdapat solusi sebelum perdagangan bebas mendominasi pangsa pasar.

 

Perbaikan sarana transportasi

Dalam rangka meningkatkan kesiapan sarana dan prasarana, Kementerian PU, Perhubungan, Pemerintah daerah secara sinergi membangun infrastruktur transportasi di seluruh wilayah Indonesia khususnya sentra-sentra produksi pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan baik transportasi darat, laut dan udara dengan memperhatikan sistem yang berkelanjutan dan kelestarian alam dan lingkungan. Sebagai contoh adalah Kementerian Perhubungan, Kementerian PU dan Pemda membangun jaringan prasarana dan penyediaan sarana transportasi antar moda, antar pulau yang terintegrasi seperti membangun terminal bandara, terminal angkutan darat dan pelabuhan laut baik skala internasional, antar provinsi dan antar pulau kecil, terluar dan tertinggal.

 

 

Kesimpulan

 

Di sektor jasa perbankan, Indonesia juga belum mampu memanfaatkan daya tarik pasar domestik dengan kebijakan yang dapat menguntungkan kepentingan nasional. Indonesia telah membuka kepemilikan asing di bank lokal hingga 99 persen, aturan pembukaan cabang dan ATM tidak terbatas, serta segmen pasar bank asing yang tidak dibatasi. Sementara Singapura yang memiliki sektor jasa keuangan dan perbankan yang jauh lebih kompetitif tetap membatasi kepemilikan asing di bank lokal maksimal hanya 20 persen, ijin operasional diberikan berjenjang dan pembukaan cabang dan ATM sangat terbatas. Demikian juga Malaysia dan Thailand yang memiliki kebijakan jelas dalam mendukung daya saing sektor perbankan dalam memanfaatkan pasar domestiknya.

Menurut Latif Adam, pengamat ekonomi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Diangkatnya Chairul Tanjung (CT) menjadi Menko Perekonomian, menggantikan Hatta Rajasa, bisa jadi merupakan angin segar bagi Indonesia untuk kembali concern untuk mempersiapkan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). setidaknya Chairul Tanjung (CT) dapat mengawal proses persiapan konsolidasi perbankan yang ada. Proses persiapan itulah yang harus memenuhi syarat-syarat, sehingga menghasilkan suatu kebijakan publik. Dimana konsolidasi perbankan nasional sudah tidak dapat dihindari lagi. Kebijakan tersebut menjadi mutlak dalam menghadapi MEA. Jika tidak Indonesia mempersiapkan mulai dari sekarang, imbasnya akan terasa pada saat MEA nanti. Perbankan nasional akan kalah bersaing dengan perbangkan asing. Harapan kita  semoga pemerintah yang baru dapat mewujudkan konsolidasi perbankan nasional.

Harus menjadi perhatian kita semua masyarakat indonesia, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan berlaku tahun depan. Indonesia sebagai salah satu anggota tentunya harus ikut mempersiapkan segalanya, karena yang terpenting adalah bagaimana negara kita sendiri bisa siap bersaing atau tidak dengan negara ASEAN lainnya. Indonesia tidak bisa menunda lagi proses konsolidasi perbankan. Pasalnya hal itu sudah dilakukan negara lain dalam 5 tahun terakhir dalam menghadapi MEA. Sejumlah bankir menyatakan, sepakat soal pentingnya konsolidasi perbankan di Tanah Air khususnya dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015.

Bahwa untuk memperkuat daya saing UMKM jelas tidak mungkin kalau hanya berharap pada inisiatif dan niat baik UMKM sendiri, tetapi butuh sinergi dengan institusi lain utamanya adalah sentuhan mesra dari perbankan. Oleh karenanya, perbankan harus ikut aktif terlibat dalam skenario pemberdayaan UMKM di tanah air. Keterlibatan secara aktif itu misalnya bisa diwujudkan dengan kesungguhannya dalam menjalankan amanah yang digariskan oleh Bank Indonesia (BI) tentang kewajiban bank nasional untuk mengucurkan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) minimal 20% secara bertahap. Kewajiban itu tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 14/22/PBI/2012 pada 21 Desember 2012 yang efektif pada tanggal tersebut. Intinya, bank nasional wajib menyalurkan kredit UMKM minimal 20% dari kredit produktif (kredit modal kerja dan kredit investasi) secara bertahap mulai 2013 hingga 2018.

Hal itu dirinci dalam enam tahapan. Pada 2013 dan 2014, rasio kredit atau pembiayaan UMKM terhadap total kredit atau pembiayaan sesuai kemampuan bank umum pada Rencana Bisnis Bank (RBB). Pada 2015, rasio kredit atau pembiayaan UMKM terhadap total kredit atau pembiayaan paling rendah 5%. Berikutnya, rasio kredit atau pembiayaan UMKM terhadap total kredit atau pembiayaan paling rendah 10% dan 15% masing-masing pada 2016 dan 2017. Pada 2018 dan seterusnya, rasio kredit atau pembiayaan UMKM terhadap total kredit atau pembiayaan paling rendah 20%.

Aturan itu diterbitkan dengan pertimbangan bahwa UMKM memiliki peran yang strategis dalam struktur perekonomian nasional termasuk untuk mendukung pengendalian inflasi. Selain itu, aturan tersebut bertujuan untuk memperkuat peran UMKM dalam struktur perekonomian nasional. Oleh sebab itu, perlu mengembangkan UMKM melalui peningkatan akses kredit atau pembiayaan dari perbankan pada segmen tersebut.

Belajar dari pengalaman, di masa lalu perusahaan-perusahaan milik konglomerat yang diberi hak monopoli ternyata mereka pun terbukti kropos dan amburadul sehingga harus mendapatkan bantuan untuk dapat bertahan dan suvive kembali. Adalah fakta yang kita semua ketahui bahwa ratusan triliun rupiah harus ditanggung rakyat untuk menyelamatkan bank-bank swasta yang saat inipun masih membebani APBN kita. Oleh karena itu, kalau hari ini kebijakan pemerintah berubah haluan untuk lebih berpihak kepada UMKM maka itu sejatinya merupakan langkah yang sangat tepat guna membangkitkan perekonomian bangsa dan negara. Di negara-negara majupun, baik di Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Italia, UKM lah yang menjadi pilar utama perekonomian negara. Keadaan itu hanya mungkin terjadi kalau pemerintah mampu dan mau membangun iklim ekonomi yang sehat bagi pertumbuhan dan persaingan UMKM.

 

Belajar dari BRI

Sejatinya, keberadaan UMKM merupakan ladang empuk bagi perbankan yang secara serius menggarap potensi ini. Lihat saja bagaimana ‘suksesnya’ kiprah Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai pemimpin pasar (market leader) kredit UMKM. BRI sebagai bank nomor dua menurut total aset setelah Bank Mandiri dengan gagah perkasa sanggup mencetak laba bersih Rp5,01 triliun per triwulan I 2013 atau tumbuh 18% dibandingkan periode yang sama pada 2012. Laba bersih begitu tinggi itu antara lain bersumber dari kredit UMKM yang tumbuh 23% menjadi Rp112,2 triliun atau 31% dari total kredit. Bandingkan dengan bank pesaing BRI yang juga rajin menggarap kredit UMKM. Penyaluran kredit mikro Bank Danamon tumbuh 18% menjadi Rp32 triliun sedangkan laba bersih mencapai Rp1 triliun. Hal ini disusul Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) dengan laba bersih yang meningkat 30% menjadi Rp573 miliar, Harian Kontan (25/4/ 2013).

Bermodal pengalaman yang cukup lama, dan terbukti tangguh dalam kondisi makro ekonomi yang terus berfluktuasi, nampaknya BRI akan tetap berorientasi pada segmen kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Peluang pangsa pasar pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih cukup besar. Segmen bisnis UMKM merupakan bisnis historis BRI yang sesuai dengan wong cilik. Terbukti core business tersebut mampu memberikan kontribusi laba yang cukup signifikan kepada BRI. BRI tetap memfokuskan diri pada usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dalam pengembangan fungsi intermediasinya. Di samping itu, BRI terus menerus meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanan kepada nasabah dengan memberikan fitur-fitur produk yang lebih beragam serta cepat dan akurat.

Dari sisi kualitas UMKM saat ini memang harus ada sinergi dari berbagai pihak karena permasalahan UMKM tidak hanya dari sisi permodalan, tetapi juga pemasaran, sumber daya manusia (SDM), manajemen serta aspek pemanfaatan teknologi produksi dan informasi. Meski demikian, UMKM tetap menjadi lahan yang menarik karena pengalaman membuktikan bahwa UMKM lebih tahan terhadap krisis dan umumnya UMKM lebih patuh dalam pengembalian pinjaman. Menarik kiranya belajar dari strategi BRI dalam mencapai goal tersebut yakni dengan mengembangkan dan meningkatkan usaha yang bersinergi dengan fokus pada bisnis mikro, ritel, dan menengah melalui jaringan yang luas dan didukung oleh IT yang mutakhir dan SDM yang profesional serta melaksanakan praktik risk management dan Good Corporate Governance (GCG).

Penyaluran kredit UMKM menggunakan distribusi channel yang ada, yaitu unit, kantor cabang pembantu, dan kantor cabang. Sebagaimana bank dengan distribusi channel yang terluas diharapkan akan lebih mendekatkan UMKM atau market dengan BRI. Selain UMKM yang telah bankable, BRI juga telah melakukan upaya-upaya untuk membantu UMKM yang belum bankable, karena mereka adalah calon-calon nasabah potensial bagi BRI. Program pembinaan terhadap ‘embrio’ UMKM ini dilakukan melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Pembinaan yang dilakukan meliputi aspek manajemen dan pemasaran. Setelah mereka menjadi bankable barulah diajak bergabung di BRI Unit. Dengan demikian, kedua belah pihak mendapat keuntungan, baik itu nasabah ataupun BRI.

Singkatnya, UMKM adalah salah satu motor pengerak ekonomi nasional. UMKM penting dilindungi dan dikembangkan lebih besar untuk menopang pertumbuhan ekonomi masyarakat. Penguatan UMKM mutlak dilakukan sebelum diberlakukannya AEC 2015. Kita ingin melihat UMKM nasional mampu menjadi tuan di negeri sendiri dan menjadi tamu terhormat di negeri orang.

 

Referensi :

https://www.academia.edu/9070390/Asean_Economic_Community_2015

https://ikbalumhar.wordpress.com/2014/07/11/siap-tidak-siap-harus-siap-indonesia-menuju-asean-economic-community-aec-2015/

http://www.suaradewata.com/index.php/baca-posting/273/Menyambut-Masyarakat-Ekonomi-ASEAN-awal-MEAakhir-2015

http://bappeda.jatimprov.go.id/2013/09/25/daya-saing-umkm-menghadapi-aec-2015/

About Rahmad

Writers : Rahmad Hidayat now studying at Gunadarma University. Informatics of Management.

One response »

  1. jtxmisc mengatakan:

    termakasih infonya, sangat bermanfaat , artikel menarik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s